
Kalau kamu mendengar kata “Apa Itu Kampung Inggris Pare”, tolong buang jauh-jauh imajinasi soal desa yang isinya bule pirang lagi jualan cilok atau tukang becak yang fasih berpuisi ala Shakespeare. Pare, sebuah kecamatan di Kediri, Jawa Timur, tidak se-ajaib itu. Tapi, ia punya “sihir” lain yang bikin ribuan orang rela antre tiap bulan.
Lantas, apa sih sebenarnya Kampung Inggris itu? Mari kita bedah pelan-pelan, biar nggak gagal paham kayak pas ngerjain soal reading TOEFL.
Bukan Sekadar Kursusan, tapi “Ekosistem“
Banyak orang datang ke Pare menyangka mereka akan masuk ke sebuah sekolah besar dengan gerbang megah bertuliskan “Kampung Inggris”. Nyatanya? Kamu cuma bakal ketemu deretan lembaga kursus yang jumlahnya lebih dari 160 biji, tersebar di Desa Tulungrejo dan Pelem.
Secara akademis Kampung Inggris adalah sebuah English Village-based immersion program. Konsep ini juga ada di Kanada tahun 1960-an, tepatnya dalam eksperimen di St. Lambert, Quebec. Waktu itu, orang tua murid yang berbahasa Inggris pengen anaknya jago bahasa Prancis. Mereka nggak mau anaknya cuma belajar teori, mereka pengen anaknya “dicemplungkan” ke lingkungan yang memaksa mereka berkomunikasi.
Nah, Pare secara tidak sengaja (atau mungkin berkat visi jenius Pak Kalend Osen di tahun 1977) melakukan hal yang sama. Bedanya, kalau di Kanada itu proyek sekolah publik, di Pare ini adalah gerakan organik. Pak Kalend memulai dengan Basic English Course (BEC), lalu jurnalis datang, melihat orang-orang lokal mulai ber- is-am-are, dan bum! Lahirlah nama “Kampung Inggris”.
Lantas Apakah Kamu Butuh ke Pare?
Di era AI seperti sekarang, saat aplikasi penerjemah sudah sangat canggih, kenapa orang masih jauh-jauh ke Kediri? Karena bahasa itu bukan cuma soal memindahkan kata dari bahasa A ke bahasa B. Bahasa adalah soal rasa percaya diri (confidence) dan identitas.
Riset dari Widya Rizky Pratiwi (2024) menyebutkan bahwa inovasi di Kampung Inggris Pare terus berevolusi. Dari yang dulu cuma bermodal papan tulis, sekarang sudah mulai memakai platform online, kuis digital, hingga metode CLT (Communicative Language Teaching) yang lebih modern. Pare membuktikan bahwa pendidikan itu tidak harus mahal dan tidak harus di gedung bertingkat.
Bukan Cuma Buat Gaya-gayaan!
Mungkin ada yang mikir, “Ah, paling buat keren-kerenan doang biar bisa nulis caption Instagram pakai bahasa Inggris.” Eits, tunggu dulu.
Beberapa orang juga mengaku kalau efek Pare itu merembet ke mana-mana. Yang tadinya pusing liat jurnal kuliah bahasa Inggris, sekarang jadi lebih santai. Yang tadinya nonton film harus melototin subtitle bahasa Indonesia, sekarang sudah bisa mulai paham dikit-dikit tanpa bantuan teks. Bahkan, mereka merasa punya “mentoring” yang lebih sakti dari Google kalau urusan kesulitan bahasa.
Rahasia Kampung Inggris ada di Asrama-Nya?
Apa yang bikin orang bisa jago bahasa Inggris di Pare dalam waktu sebulan, padahal sudah belajar di sekolah selama 12 tahun tapi cuma hafal “I am fine, thank you”? Jawabannya bukan karena air di Kediri mengandung vitamin kosakata, tapi karena Camp.
Di Pare, kamu tidak cuma belajar di kelas. Tapi Kamu mulai belajar dari kamu bangun tidur, ketemu teman, wajib pakai bahasa Inggris. Mau pinjam jemuran? Pakai bahasa Inggris. Mau debat soal siapa yang belum piket? Pakai bahasa Inggris.
Ini adalah bentuk Community of Practice. Lingkungannya nggak menghakimi kalau kamu salah. Kalau kamu salah tenses di Jakarta, mungkin diketawain anak Jaksel. Kalau kamu salah tenses di Pare, temanmu bakal memaklumi karena mereka juga lagi berjuang supaya lidahnya nggak kesleo. Tekanan sosial yang positif inilah yang mempercepat akuisisi bahasa jauh melampaui metode klasikal di sekolah.
Kesimpulan
Jadi, Kampung Inggris itu apa? Ia adalah tempat bagi siapa saja mulai dari anak SMA yang mau masuk kuliah, mahasiswa yang ngejar beasiswa, sampai profesional yang pengen naik jabatan.
Ia adalah bukti bahwa kalau lingkungan sudah mendukung, belajar bahasa yang paling sulit sekalipun bakal terasa lebih mudah daripada memahami kode dari gebetan. Pare bukan cuma soal kursus bahasa; ia adalah simbol kemandirian pendidikan yang membuktikan bahwa untuk jago bahasa Inggris, kamu nggak butuh paspor, cuma butuh niat dan tiket kereta ke Stasiun Kediri.



